Posted by T. Budhi on Aug 28, '08 1:01 AM for everyone Assalaamu'alaikum wr.wb.. If there is a day, There Must Be a night If there is a black, there must be a white If there is a mistakes, there must be forgiveness Mata kadang salah melihat.... Mulut kadang salah berucap.... Hati kadang salah menduga..... Maafkan segala kekhilafan yang pasti ada.... ===== Mohon Maaf Lahir dan Bathin ====== MARHABAN YAA RAMADHAN Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do'a kita di ijabah, Marhaban Ya Ramadhan Allaahumma baariklanaa fi Sya'ban wa ballighnaa Ramadhan Ya Rabb, berkahi kami pada bulan Sya'ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan, Aminn. " Do'a Malaikat Zibril Menjelang Ramadhan " "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); * Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri; * Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapat kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum'at.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1429 H SEMOGA KITA DAPAT MENJALANKAN IBADAH PUASA DENGAN OPTIMAL, AAMIN. Wassalamu'alaikum Wr Wb
Posted by T. Budhi on Aug 20, '08 1:32 AM for everyone Menjelang ramadhan yang penuh cinta, Komunitas Sekolah Kehidupan.com mengadakan program 1000 Cinta untuk 1000 Mushalla yaitu bakti social (baksos) dengan membagikan perlengkapan shalat (mukenah, sajadah, kain sarung, peci) dan Al Qur'an di tempat umum: Mushalla di terminal, stasiun. POM bensin, dan tempat publik yang lain, yang dinilai tak lagi memiliki alat shalat layak pakai. Waktu pelaksanaan baksos: Tgl 6 September 2008 s/d 14 September 2008 serentak di wilayah-wilayah Jabodetabek, Yogya (dan akan menyusul Bandung, Surabaya, Kaltim, Mesir). Lebih detil bisa dilihat di sini
Posted by T. Budhi on Aug 14, '08 11:32 PM for everyone Bulan ini paling tidak ada dua tanggal yang menjadi begitu sangat penting, yaitu 16 dan 17 Agustus. Bukan berarti mengesampingkan tanggal-tanggal yang lainnya lho.
Tanggal 16 Agustus merupakan tanggal kelahiran ayahanda tercinta. diusianya yang ke 55 th ini, beliau masih tetap menyayangi anak-anak dengan wejangan-wejangannya. Selamat Ulang Tahun tuk Bapak. Semoga selalu diberikan keberkahan dalam mengarungi kehidupan dan selalu memberikan wejangan yang terbaik untuk anak-anak mu.
Tanggal 16 Agustus yang kedua, merupakan hari lahir Oi. 9 Tahun yang lalu, tepatnya di silaturahmi nasional di rumahnya bang Iwan Fals, Oi dideklarasikan. Selamat Ulang Tahun Oi. Walau usia masih belia, tetap kepakan sayap tuk menggapai dunia.
Tanggal 16 Agustus yang ketiga, merupakan hari lahir OCC. OCC, merupakan kependekan dari Oi Crisis Center. 2 tahun OCC berdiri, telah turut serta dalam upaya penanganan bencana yang terjadi dibeberapa titik di negeri ini. Selamat Ulang Tahun OCC. Singsingkan lengan bantu sesama.
Yang terakhir 17 Agustus, semuanya sudah pada tau kan. 63 tahun yang lalu republik ini di proklamasikan. Selamat Ulang Tahun Indonesia. Mari jadikan Negeri ini menjadi negeri yang disegani seperti dulu kala.
Posted by T. Budhi on Aug 4, '08 12:45 AM for everyone Rabu lalu, tepatnya tanggal 30 Juli 2008. Pas kebetulan hari libur aku coba paksakan kaki ini untuk menyusuri wilayah Kabupaten Bogor, tepatnya di daerah Cigudeg. Dengan berbekal informasi yang minim, aku dan temanku meluncur ke daerah yang menjadi titik target. Kampung Urug, sebuah perkampungan yang aku sendiri masih bingung kenapa dinamakan Kampung Urug. Dari beberapa Informasi, ada yang mengatakan perkampungan tersebut berada di sekitar Jasinga Bogor. Tanpa pikir panjang tepat pukul 10 pagi, aku ku tancap gas sepeda motorku. Dengan harapan biar cepat sampai dan bisa istirahat di perkampungan itu. Sesampainya di Jasinga, Kabupaten Bogor sekitar jam 1 siang. Istirahat untuk makan siang dan sekalian cari informasi tentang kampung itu. Glekk.. Kaget bukan kepalang euy,.. Setelah tanya sana, tanya sini, orang-orang di rumah makan itu tidak ada yang mengetahui letaknya Kampung Urug itu dimana? Makin pusing dibuatnya, malahan sebagian diantara yang aku tanya balik bertanya. "Memang Kampung Urug dimana ?" "Lho aku yang tanya koq situ tanya balik", pikirku dibalik otak yang sudah rada mumet dan bingung. Ada yang bilang dari Jasinga terus aja ke arah Rangkas. "Koq makin ke arah Baduy ?" . Tapi ada lagi yang bilang balik arah lagi ke daerah Cipatat. Akhirnya aku ambil yang ke arah Cipatat. Soalnya perkampungan ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Bogor. Setelah berbalik arah kurang lebih 20 KM, disebuah pertigaan kecil yang banyak tukang ojek, tepatnya daerah Cigudeg aku kembali bertanya oleh seorang penduduk yang sedang santai-santai di teras rumahnya. Beliau mengatakan ini memang jalur menuju Kampung Urug. Alangkah senangnya mendapat jawaban yang hampir mendekati titik terang. "Kira-Kira 25 KM lagi dari sini" Mataku membulat seakan tak yakin dengan ucapannya. Jika 25 KM dari Cigudeg itu sama saja perjalanan dari Jakarta ke Serpong. Atau dari rumahku ke kantorku. Tapi aku berdua tetap tak patah semangat. Ibarat orang jatuh cinta, Walaupun di gunung akan dikejar juga. tul ga? Kelokan demi kelokan dengan mudahnya aku lalui. Begitupun dengan tanjakan yang terjal maupun turunan Tajam aku lewati. Hanya dengan satu tujuan Silaturahmi dengan tokoh adat Kampung Urug. Batu-batu kerikil serta areal persawahan dan bukit yang memiliki view yang teramat sangat indah, menjadi saksi petualangan aku ini. Sayang aku ga punya cukup waktu untuk mengambil gambarnya. Ini dikarenakan waktu yang sudah menjelang sore. Dengan sisa semangat yang masih tersisa akhirnya ketemu sebuah PLANG Kampung Urug. Membelok ke kiri dengan kemiringan yang bisa aku rasakan sekitar 45 derajat. Dan terus meluncur ke bawah hingga sampailah di sebuah Gedong Gede. Pencarian kami pun membuahkan hasil pada jam setengah 4 sore. Ga kebayang, dari jam 10 hingga jam 1/2 4 sore baru ketemu kampung yang dicari. Di Gedong Gede, Sebuah bangunan besar dengan corak warna hijau kuning yang cukup mencolok. Selain Gedong Gede disana juga ada sebuah bangunan panggung dengan beberapa anak buah tangga. Bangunan tersebut tidak ada seorangpun yang boleh masuk kecuali Abah. Tepat di belakang Bangunan panggung ada Gedong Kecil. Letaknya simetris lurus dari Pintu Gedong Gede-Bangunan Panggung-Gedong Kecil. Menurut penuturan Abah Kolot, bangunan itu merupakan seseorang yang sejak dalam kandungan sudah mendisain bangunan dan tata letak perkampungan Urug. Bangunan tersebut tidak sembarang orang boleh masuk. Bahkan Abah sendiri ada waktu khususnya bila ingin masuk ke gedong kecil tersebut. Di Arela persawahan Abah ada sebuah prasasti peninggalan dari Kerajaan Padjajaran. Kehidupan masyarakat Kampung Urug sudah moder. Listrik sudah masuk ke kampung itu tahun 1996. Bangunan rumah-rumah adatnya hanya menyisakan beberapa buah saja. Sisanya rumah-rumah disana sudah permanen. Terlepas dari usur Moderinitas yang terjadi di Kampung Urug adalah sebuah perkampungan yang masih menjaga budaya Adatnya. kami beruntung bisa bertemu dengan Abah Kolot. Abah Kolot ini merupakan Kepala Adat di Kampung Urug. Beliau di segani dan di hormati oleh banyak orang. Setelah mengutarakan maksud dan tujuan kami, kami pun diterima dengan hormat dan suka cita. Singkat cerita sampailah kepada pembicaraan yang serius. Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut kami. Mengenai sejarah kampung ini hingga mengarah kepada kedigdayaan kerajaan Padjajaran abad ke 15 lampau. Dilihat dari silsilah yang beliau utarakan, Abah merupakan penerus Kerajaan Padjajaran generasi ke 11 dari keturunan Prabu Siliwangi ke 2, yang merupakan Raja ke 5 (kalau tidak salah) Kerajaan Padjajaran. Sedangkan Ciptagelar juga merupakan generasi penerus dari keturunan kerajaan Padjajaran, tetapi beliau tidak mengungkapkan generasi keberapanya. Tetapi beliau mewanti-wanti kami untuk tidak menceritakan dimana letak istana Kerajaan Padjajaran. "Nanti kalau sudah waktunya kamu pasti tau sendiri dimana letak kerajaan padjajaran." sambil menghisap rokok dalam-dalam, Abah melanjutkan kembali cerita menganai muasal Kerajaan Padjajaran. Jika aku membandingkan dengan sejarah yang aku pelajari, hingga kini aku pun juga belum tahu dimana letak persisnya kerajaan Padjajaran. Mungkin di kampung ini atau mungkin pula di pusat kota bogor sekarang ini. Entahlah suatu saat pasti akan ada penelitian-penelitian mengenai itu pikirku diam-diam. di era 2000-an pernah terdengar publikasi mengenai letak Istana Padjajaran. Saat itu kalau tidak salah Menteri Agama yang menjabat di era itu menyebutkan bahwa ada sesuatu yang sangat bernilai di situs Batu Tulis Ciarenteun. Tapi perlahan publikasi itu surut dan belum menemukan titik terang. Asal kata Padjajaran sendiri berasal dari sebuah pohon yang berada di wilayah Bogor waktu itu, tepat persisnya abah belum menceritakannya. dari beberapa literatur yang aku baca adalah pohon Paku Djajar. Pohon tersebut ditebang oleh 200 orang Arab, saat penebangan berlangsung 160 orang Arab tersebut menghilang tidak diketahui rimbanya. Yang tersisa hanyalah 40 Orang yang keturunannya sekarang ini menempati pedalaman desa Kenekes atau yang lebih kita kenal dengan Baduy. Hal ini menimbulkan keingin tahuanku, pertanyaan demi pertanyaan sekelebat muncul silih berganti. Aku coba mencari makna yang tersirat dari jawaban-jawaban yang Abah berikan. Hingga kami pun coba mengkaitkan antara Kampung Urug, Ciptagelar hingga Baduy dengan Kerajaan Padjajaran. Seperti yang aku tulis sebelumnya di MP ini sesaat setelah kunjungan ke Baduy beberapa waktu yang lalu. Jaro Sani mengungkapkan bahwa orang-orang Baduy dulu merupakan pendiri Kerajaan Padjajaran. Jika hal tersebut demikian dan dikaitkan dengan pernyataan Abah Kolot, maka dapat ditarik benang merah yang sesuai yaitu Orang Arab yang menebang pohon Padjajaran dan sisanya bermukim di lembah pegunungan Kendeng merupakan orang-orang yang turut serta membangun sebuah kerajaan di Bogor (Padjajaran). Namun hal itu masih perlu sebuah penelitian yang mendalam. Alm Abah Anom, Kepala Adat Ciptagelar, saat kunjungan kami beberapa tahun lampau saat beliau masih ada mengungkapkan bahwa beliau dengan masyarakatnya selalu berpindah hingga nanti kepindahannya yang ke-14 baru akan menetap. Letak persisnya sendiri alm Abah Anom tidak memberikan jawaban. Yang pasti jika nanti tiba waktunya pasti akan tahu sendiri. Nah dari situ aku coba kaitkan dengan pernyataan Abah Kolot, Bahwa Kampung Urug merupakan walikan aksara dan juga Pancer Bumi atau pusat bumi atau bisa jadi pusat dari kasepuhan adat pedalaman masyarakat keturunan Padjajaran. Walikan aksara yang dimaksud adalah kata Urug yang dibalik menjadi Guru. Jika hal demikian yang dimaksud bisa saya artikan bahwa Guru merupakan seorang tokoh panutan yang ajarannya selalu ditiru oleh siswanya. Dimana nantinya Masyarakat Ciptagelar akan berpindah mendekati Saudara Tua dan Masyarakat baduy terlepas dari kehidupan prasejarah bila pekerjaannya telah usai.Apa makna yang tersurat dari pernyataan "pekerjaannya telah usai" tersebut, aku sendiri tidak tahu. Waktu sudah menjelang magrib, aku pun beranjak untuk segera pulang. Maklum esok harinya harus memulai rutinitas seperti biasa. Kami pun diperkenankan untuk melihat sekeliling Kampung dan diijinkan untuk memotret. Bahkan kami diijinkan untuk masuk hingga ke depan pintu Gedong Kecil, yang tidak sembarang orang boleh masuk ke pekarangannya. Tetapi hati ini belum siap. Kami hanya mengambil beberapa gambar saja dari depan gerbang pekarangan. Setelah itu kami pamitan undur diri dan tak lupa mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Abah serta beberapa orang yang ada di Gedong Gede. Abah pun tak lupa berpesan kepada kami jika suatu waktu bisa berkunjung kembali dan mendoakan kami semoga dilimpahkan kemudahan rejeki dan diberi kemudahan dalam menjalankan segala aktivitas. Serta sebuah pesan yang teramat sangat sakral yang kami peroleh saat berbincang-bincang di Gedong Gede. Kami pun segera pulang menyusuri tanjakan terjal berkerikil. Kembali berkelok-kelok hingga sampai Jakarta. Itulah sepenggal kisah petualangan aku, suatu saat aku akan berkunjung lagi ke perkampungan itu.
Posted by T. Budhi on Jul 28, '08 10:56 PM for everyone Buat para MP-er semua yang suka design khususnya grafis bisa nich ikutan sayembara logo/lambang Depsos. Semua persaratan dan ketentuan ada di sini klik aja
Posted by T. Budhi on Jul 28, '08 10:35 PM for everyone Saatnya memburu pekerjaan. Mungkin itulah kata yang tepat di saat ini. Nach, sebagai informasi aja nich buat temen-temen yang lagi nganggur atau yang punya sodara yang nganggur atau yang mau pindah kerjaan kali. Coba aja daftar CPNS DEPLU siapa tau rejeki khan. Selamat mencoba & SUKSES.
Posted by T. Budhi on Jul 9, '08 12:54 AM for everyone Akhirnya,.... Setelah menunggu beberapa peserta di Meetting Point yang sudah ditentukan, akhirnya seluruh peserta kumpul juga. Soalnya dah khawatir, jangan-jangan ada yang mundur dadakan seperti 2 tahun yang lalu. Eh ternyata tidak sama sekali. Tronton yang menunggu sedari jam setengah sebelas malam pun berangkat meninggalkan Kalibata. Ga kira-kira telatnya, perjalanan diberangkatkan jam 11 malam dan setibanya di Ciboleger jam setengah empat pagi. kebayang ga... Setiba di Ciboleger, seperti biasa peserta diinapkan di rumah Pak haji. Pagi hari sebelum berangkat, peserta diberikan kesempatan untuk berkenalan serta pengarahan oleh panitia. Tepat jam 9 pagi waktu setempat peserta berangkat menuju kampung Cibeo (perkampungan Baduy terdekat). Benar-benar luar biasa, Peserta begitu semangatnya dan keseluruhan peserta tiba di Cibeo jam 1 siang. Sesampainya di sana penduduknya belum ada yang pulang. Nah loh.... Akhirnya peserta dan panitia pada tiduran di teras bambu penduduk deh. Jam 4 sore 1 kelompok putra yang belum mendapatkan kepastian menginap dimana. Ini dikarenakan si empunya rumah belum pulang dari ladang. Maklum musim di mulainya cocok tanam. Akhirnya diputuskan kelompok yang belum mendapatkan penginapan bisa nimbrung sama panitia dan sekali lagi ga kebayang. satu rumah di tempati oleh kurang lebih 20 orang. persis kayak ikan pepes, tidur empet-empetan. Banyak peserta yang berinteraksi langsung dengan penduduk baik dengan yang punya rumah maupun dengan warga lainnya. di pagi hari sekitar jam 9 pagi peserta mendapat kehormatan yang luar biasa. Sebelum-sebelumnya Jaro Sani biasa nemuin peserta di depan bale patemon, tapi kali ini Jaro Sani memperkenankan peserta untuk tanya jawab seputar Baduy di kediaman dinasnya. wah... suatu kehormatan banget deh... Setelah tanya jawab selesai, peserta bersiap, berkemas untuk melanjutkan perjalanan pulang. tepat jam 11 seluruh peserta dan panitia kembali menuju Ciboleger dan tiba pukul 1 siang. EXPRESS euy.. Terkendala Tronton yang belum datang, akhirnya beberapa peserta menyempatkan tidur dan ngobrol. Ada juga yang hunting oleh-oleh. Tronton tiba jam setengah enam sore, dan seketika itu juga kami bergegas untuk kembali ke Jakarta. sampai di Kalibata jam 11 malam. Sebelum pulang ke rumah masing-masing panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan permohonan maaf dilanjutkan dengan salam-salaman. (kaya' lebaran yach). dan wisata alam baduy 2008 pun berakhir. sampai bertemu di event selanjutnya.
Posted by T. Budhi on Jul 9, '08 12:34 AM for everyone Setelah melakukan kunjungan ke Baduy, ada beberapa point yang bisa dijadikan masukan baru buat temen-temen. Berikut point-point intisari yang di dapat dari interaksi peserta Wisata Alam dan Budaya Baduy 2008 dengan Jaro Sani (Tokoh Adat Kampung Cibeo). - Orang Baduy sendiri bingung, kenapa dipanggil/dikenal oleh orang luar sebagai orang Baduy. Padahal mereka menganggap sebagai Suku Kenekes dan Baduy sendiri mungkin karena mereka bermukim di lembah-lembah pegunungan Baduy.
- Bahwa perkampungan Baduy yang berjumlah 40 rumah (Kepala Keluarga) adalah tidak benar, hal tersebut di karenakan sewaktu masa penjajahan, penjajah hanya menggunakan logikanya bahwa di kampung yang sempit jumlahnya sekitar 40 rumah.
- Penduduk Baduy mengakui adanya Nabi Muhammad, tetapi mereka percaya kepada Adam Tunggal.
- Orang Baduy sudah ada sejak Abad ke 1, Jauh sebelum Padjajaran berdiri, bahkan Padjajaran didirikan oleh orang-orang Baduy yang ingin mengeluarkan ekspresinya.
- Binatang yang diharamkan untuk dipelihara adalah binatang berkaki empat (sapi, kambing, domba, kucing) tetapi boleh dimakan kecuali kucing diharamkan untuk dipelihara dan dimakan.
- Tanaman yang tidak diperbolehkan adalah sejenis umbi-umbian.
- Orang Baduy bisa menerima bantuan dari luar, tetapi dalam bentuk makanan.
- Rumah orang Baduy tidak menggunakan paku sebagai perekat, tetapi menggunakan tali yang berasal dari bambu. Rumah tersebut bisa bertahan hingga 50 tahun.
- Selain gelas bambu, media untuk minuman berasal dari mangkok keramik.
- Orang Baduy dewasa akan mengajarkan adat istiadat kepada anaknya apabila telah mencapai umur 10 tahun. Usia 12 Tahun di Baduy sudah dikatakan dewasa.
- Nama-Nama orang Baduy tidak diberikan oleh orang tuanya, melainkan nama-nama tersebut diberikan oleh Puun (Pemangku adat tertinggi atau bisa dikatakan Presidennya)
- Puun tidak bisa ditemui di kediamannya baik oleh orang Baduy sendiri maupun oleh orang luar, tetapi bisa ditemui ketika beliau sedang berladang.
Itulah yang dapat saya uraikan, mengingat sewaktu tatap muka kami tidak membawa alat tulis. ya.... jadi seingatnya aja..
Posted by T. Budhi on Jul 8, '08 1:39 AM for everyone Sebanyak 34 Parpol siap bertarung di PEMILU 2009 nanti. Sudahkan anda menentukan pilihan ? Berikut ke 34 Parpol yang menjadi peserta pemilu setelah dinyatakan lolos verifikasi, baik secara administratif maupun secara faktual, berikut nama-nama parpolnya : A. Parpol Lama: 1. Partai Amanat Nasional (PAN) 2. Partai Bintang Reformasi (PBR) 3. Partai Bulan Bintang (PBB) 4. Partai Damai Sejahtera (PDS) 5. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 6. Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) 7. Partai Demokrat (PD) 8. Partai Golkar 9. Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) 10. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 11. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 12. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 13. PNI Marhaenisme 14. Partai Pelopor 15. Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) 16. Partai Persatuan Pembangunan (PPP). B. Parpol Baru: 1. Partai Barisan Nasional (Partai Barnas), 24 provinsi 2. Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), 27 provinsi 3. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), 31 provinsi 4. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), 33 provinsi 5. Partai Indonesia Sejahtera (PIS), 33 provinsi 6. Partai Karya Perjuangan (PKP), 22 provinsi 7. Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), 25 provinsi 8. Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), 25 provinsi 9. Partai Kedaulatan, 23 provinsi 10. Partai Matahari Bangsa (PMB), 25 provinsi 11. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), 25 provinsi 12. Partai Patriot, 23 provinsi 13. Partai Buruh Rakyat Nasional (PBRN), 23 provinsi 14. Partai Pemuda Indonesia (PPI), 23 provinsi 15. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI), 23 provinsi 16. Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB), 22 provinsi 17. Partai Persatuan Daerah (PPD), 22 provinsi 18. Partai Republik Nusantara (PRN), 22 provinsi
Posted by T. Budhi on Jul 2, '08 11:11 PM for everyone  Merdeka.... Merdeka.... Ya, Indonesia telah merdeka 63 tahun yang lalu. Sejak di proklamirkannya NKRI selalu saja ada aral dan rintangannya. Baik dari dalam maupun dari luar. Sebenarnya apa sich arti Merdeka itu ? Bagi Saya Merdeka bisa di bagi menjadi 2. Merdeka secara lahir dan batin. Merdeka secara Fisik adalah Lepas dari penjajahan dan membentuk pemerintahan sendiri. sedangkan Merdeka non fisik adalah Kebebasan yang bertanggung jawab dan bermanfaat. Lho, kenapa ya kok pendek arti merdeka menurut saloute itu. Dari arti tersebut dapat kita mendapatkan 3 suku kata yang menjadi inti, yaitu Kebebasan yang bisa diartikan sebagai kebebasan mengatur pemerintahannya sendiri dari pengaruh siapapun baik pihak luar maupun dalam. kedua, Bertanggung Jawab, maksudnya adalah pemerintah selalu bertanggung jawab terhadap amanat yang diberikan. Baik amanat sebelum Republik ini berdiri hingga sekaran. Dan yang terakhir, Bermanfaat. Pemerintah sudah semestinya memberikan manfaat dari hasil-hasil produksi (baik yang dikelola oleh swasta maupun oleh pemerintah sendiri) kepada warga negaranya sehingga membawa dampak perubahan ke arah yang lebih baik. Nach.. Merdeka menurut temen-temen apa sich ?
Posted by T. Budhi on Jun 29, '08 11:34 PM for everyone Tiga hari lagi pendaftaran wisata Alam dan Budaya Baduy 2008 akan ditutup. Untuk itu bagi yang berminat atau bagi yang sudah konfirmasi keikutsertaannya dimohon segera menstransferkan biaya keikutsertaannya. Biaya peserta yang berlaku saat ini adalah biaya untuk gelombang II. Demikian informasi ini, harap maklum
Posted by T. Budhi on Jun 11, '08 2:53 AM for everyone Dengan ini di informasikan kepada Teman-teman yang berkeinginan untuk ikut serta dalam wisata Baduy 2008 bahwa peserta sudah masuk sebanyak 25 orang. Bagi yang belum mentransfer biaya wisata baduy kami harap dengan segera di karenakan tidak menutup kemungkinan pendaftaran gelombang I diperpendek. Demikian harap maklum'
Posted by T. Budhi on Jun 3, '08 3:07 AM for everyone Baduy, Berdasarkan wilayah administratif pemerintahan, perkampungan baduy termasuk ke dalam wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Adalah suku kenekes yaitu kelompok masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat di pedalaman gunung Baduy. Mereka biasa disebut juga dengan Suku Baduy. Kepercayaan yang mereka anut adalah Islam Sunda Wiwitan.
Bila kita melihat dan menginjakkan kaki di perkampungan adat ini sungguh suatu hal yang luar biasa. Keindahan alam di tanah Baduy serta keramahan masyarakatnya, menjadikan perjalanan ini sebagai pengalaman yang sarat nuansa dan suasana baru yang takkan terlupakan. Yang pasti, kita akan merasakan suasana masyarakat pedalaman dan atraksi-atraksi alam yang jarang kita temui dalam rutinitas sehari-hari. Untuk yang ke-sekian kalinya, Kami yang berasal dari Oi Crisis Center mengajak teman-teman semua untuk menikmati keindahan unik itu dalam acara WISATA ALAM 2008.WISATA ALAM KAMPUNG ADAT BADUY LEBAK - BANTEN 04 - 06 JULI 2008 ================================================== ===== PELAKSANAAN : Jum’at-Minggu, 04 - 06 Juli 2008 PENDAFTARAN : 01 Juni – 02 Juli 2008 BIAYA : Gelombang I : Tanggal 01 Juni - 20 Juni 2008 Biaya : Rp. 150.000/orang *) Gelombang II : Tanggal 21 Juni - 02 Juli Biaya Rp. 175.000/orang **) Untuk dapat diketahui secara jelas, mohon menambahkan 3 digit nomor HP pendaftar pada saat Transfer. CONTOH : *) A mendaftar tgl 20 Juni, nomor HP A. 08134356789 Maka si B mentransfer Rp. 150.789
**) B mendaftar tgl 21 Juni, nomor HP B. 081387367979 , Maka si A mentransfer Rp. 175.979 BIAYA PENDAFTARAN DITRANSFER MELALUI REKENING : PANITIA WISATA ALAM a.n TRI BUDHI SUWARSONO BCA KCP PASAR MINGGU CENTER No. Rekening : 5470170320 KONFIRMASI TRANSFER : Mengirimkan BUKTI REKENING (Bukti Transfer harap disertakan no. HP pendaftar & Email aktif) EMAIL : saloute007@gmail.com atau SMS ke 081 384 383 157 dengan format : BADUY<spasi>NAMA<spasi>TGL.TRANSFER<spasi>NILAI_TRANSFER FASILITAS : TRANSPORTASI (PP) T-SHIRT PENGINAPAN TEMPAT PEMBERANGKATAN : Pelataran Parkir Depan TMP (Taman Makam Pahlwan) Kalibata Jum’at, 04 Juli 2008 Pukul 21.00 wib INFO LEBIH LANJUT : BUDHI : 021-922 93365 ZAENAL : 081 768 733 25
PERLENGKAPAN YG HARUS DIBAWA PESERTA Bukti Transfer, Jas Hujan/Ponco/Raincoat, Pakaian Ganti, Sleeping Bag, Matras, Alat Masak & Minum, Obat-obatan Pribadi, Logistik untuk 3 Hari dan Perlengkapan Standar Lainnya
PESERTA TERBATAS
Posted by T. Budhi on Jun 3, '08 2:22 AM for everyone Buat temen-temen yang ingin banget ikutan casting, coba aja di beberapa PH berikut :
1. Garin Nugroho Production/Yayasan Set Jl. Bacang V No.5 Mayestik Jakarta Selatan Telepon : 021-7251095
2. Gentabuana Pitaloka Jl. sangaji No.17 B Jakarta Pusat Telepon : 021-3453151
3. Gema Film Jl. Kemang IV No.11 Jakarta Selatan Telepon : 021-7192150
4. Garuda Film Jl. Kwitang Raya No.33 Jakarta Pusat Telepon : 021-3901612, 3107095
5. Dwiangkara Citra Suara/Elang Perkasa Film Jl. Kayu Putih VI B No.28 Pulo Mas Jakarta Timur Telepon : 021-4899979, 4719025, 4896434
6. de-PIC Jl. Kebon Jeruk, Wisma Graha Kencana Blok D6 Jakarta Selatan Telepon : 021-5363656
Posted by T. Budhi on May 19, '08 12:20 AM for everyone
oleh Eric Sasono Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta Bukan hanya mirip dalam soal rambut gondrong dan kumis lebat, tapi juga dalam sikap yang ’revolusioner’. Mereka sama-sama ikonik di zaman dan tempat berbeda. Che sudah lama mati, dan Iwan sudah tak segalak ketika ia berteriak ”Bongkar!” atau ”Bento!”. O ya, Iwan pun sudah tak memelihara kumis sekarang dan tak gondrong macam dulu. Masih ada yang sama antara mereka: masa revolusioner Iwan dan Che sudah lewat. Film Kantata Takwa memang lewat 18 tahun dari waktu rilis yang seharusnya. Film yang pasti memecahkan rekor dalam rentang waktu antara syuting hari pertama (Agustus 1990) dan pemutaran publik perdananya (April 2008), akhirnya bisa bersentuhan juga dengan publik. Setelah tertunda sekian lama sampai terendam banjir segala, Singapore International Film Festival tahun ini mendapat kehormatan menjadi tempat world premiere film dengan banyak nama seniman besar Indonesia itu. Film ini sempat muncul di daftar film penting yang tak selesai; seakan sebuah janji bahwa sebuah gagasan luar biasa dicatat di dalamnya. Nama-nama besar (ketika itu dan mungkin sampai kini) ada di sana. Kredit penyutradaraan jatuh pada dua nama: Eros Djarot yang legendaris dengan Tjoet Njak Dhien dan musik Badai Pasti Berlalu, dan Gotot Prakosa sang pelopor animasi eksperimental negeri ini. Supervisi ada pada Slamet Rahardjo. Pendukungnya juga tak tanggung-tanggung. Cast-nya diisi dengan nama besar seperti Penyair Burung Merak Rendra, Sawung Jabo, pengusaha-cum-musisi Setiawan Djodi; dan tentu Iwan Fals sendiri. Scoring musik dipegang oleh Jockie Suryprayogo dan penata kamera ditangani oleh orang senior dalam film kita, seperti mendiang Soetomo Gandasubrata yang bisa dibilang melahirkan nyaris seluruh juru kamera yang aktif di perfilman Indonesia saat ini. Koherensi tema Film yang judulnya diambil dari nama kelompok musik yang terdiri dari Iwan Fals, Sawung Jabo, Donny Fatah, Inisisri, dan Setiawan Djodi serta WS Rendra bisa dianggap sebagai sebuah bentuk dokumenter yang eksperimental. Dasar dokumenter itu adalah konser kelompok musik ini di Stadion Utama Senayan (sebutan Gelora Bung Karno waktu itu) yang direkam dengan 30 kamera film! (Rasanya ini rekor lain lagi buat film Indonesia). Rekaman konser yang megah itu ditambah dengan dokumentasi seputar konser itu dan berbagai dokumentasi lain. Selain itu, ada juga konstruksi fiktif penuh simbol dan rekaman pembacaan puisi yang didramatisasi. Jadilah ini sebuah campur aduk antara footage dokumenter, adegan-adegan fiksi, dan footage rekaman deklamasi sajak-sajak yang dilakukan di setting yang dirancang khusus. Bisa dibilang tak ada ”cerita” dalam pengertian yang konvensional dalam film ini. Kekisahan film ini bercampur antara dokumenter dan fiksi, antara rekaman spontan dengan pembacaan puisi di lokasi yang ditata seakan sebuah ruang pengadilan. Beberapa footage dokumenter itu bahkan demikian mentahnya, seperti adegan rekaman workshop kelompok musik Kantata Takwa ketika para anggotanya sedang berdikusi tentang mengapa kelompok ini perlu ada dan apa yang sesungguhnya akan mereka tampilkan; hingga ke dokumentasi percakapan Iwan Fals dengan anak-anak kecil yang tampak dipersiapkan dengan baik (staging). Kosa gambar itu berjalan sendiri-sendiri bagai tak membentuk pola apapun. Tak terlihat adanya pembabakan dan progresi plot, sekalipun berdasarkan topik ataupun bahkan mood. Bahkan benang merah berupa perempuan berjilbab yang menjadi saksi atas peristiwa-peristiwa fiksi dalam film ini juga tampil tak berpola sekalipun secara konstan menampilkan mood yang tak bergeser kelewat jauh dari cemas-gelisah-kuatir –seakan sedang menatap masa depan yang tak pasti. Sekalipun bentuk film ini demikian inkoheren, tapi karya ini tetap terasa mengejar koherensi dalam tema. Hal itu tampak pada dua hal: sandaran figur-figur dalam film itu dan simbolisme yang mereka gunakan. Manusia-manusia dalam film ini lebih tepat disebut sebagai figur ketimbang karakter. Karakter biasanya berangkat dari keberadaan latar belakang kehidupan dan aspirasi yang kemudian mendorong terciptanya semacam motivasi yang mendorong kisah. Pada Kantata, para tokoh ini tampil sangat figuratif. Karakter mereka memang sengaja dibuat tak bermotivasi. Yang tampil adalah posisi kultural-politis mereka yang menonjol saat itu. Penonton diharapkan kenal dengan mereka lewat berbagai referensi nonsinematis. Sedangkan simbolisme pada Kantata mengacu pada dekade 1990-an (dan sebelumnya) yang kerap menjadi agenda perlawanan para figur yang ada dalam film itu. Adegan-adegan seperti penembakan di hutan-hutan oleh orang bertopeng, pencabutan gigi oleh tentara, pengadilan oleh hakim berwajah palsu terhadap penulis puisi dan deklamator merupakan agenda kritik terhadap negara dekade 1980-1990-an. Apa yang diungkapkan Kantata adalah semacam pasemon kritik tersebut; yang juga sempat dilakukan oleh penulis cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam bentuk yang lebih terus terang. Ungkapan lewat simbol perempuan berjilbab dalam Kantata juga milik dekade 1990-an. Dalam konteks awal 1990-an, perempuan berjilbab adalah semacam perlawanan yang jelas sekali terhadap otoritas negara. Pengusiran pelajar berjilbab di sekolah-sekolah merupakan persoalan besar hingga akhir dekade 1980-an, sehingga kemudian jilbab menjadi semacam perlawanan terhadap represi negara lewat rangkaian demonstrasi (bersamaan dengan demonstrasi anti-SDSB) dan kegiatan budaya macam pembacaan puisi ”Lautan Jilbab” di beberapa panggung oleh penyair-kolumnis Emha Ainun Najib. Figur dan ungkapan simbolis yang tampil dalam film ini membentuk sebuah mayapada dengan acuan koheren dan jelas. Film ini bicara nyaring dalam konteks tertentu. Acuan pada konteks dan kelindannya dengan seluruh elemen kekisahan film ini menghasilkan koherensi yang tak terhindarkan pada tema. Maka menonton film ini bagai masuk ke kapsul waktu yang melontarkan saya ke dekade 1990-an. Masihkah relevan? Asumsi yang digunakan sebagai landasan untuk membangun tema Kantata adalah model perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru dekade 1990-an. Pada dekade itu, konsolidasi ideologi Orde Baru sudah rampung dan kekuasaan negara dioperasikan hingga ke mana-mana. Operasi itu berasal dari sumber tunggal yang bernama Soeharto. Orientasi kekuasaan adalah Soeharto, karena sudah tak ada lagi lawan politik yang relatif sejajar dengannya dengan kekalahan penentang-penentang seangkatannya (atau yang sedikit di bawahnya) dan semua yang berhasil mendekati pusat kekuasaan adalah yang paling dekat secara ideologis dengannya. Mesin penggerak birokrasi dan kemasyarakatan juga berpusar pada orientasi serupa, sesudah negara mengalami korporatisasi seperti yang biasa terjadi pada negara-negara fasis. Maka kekuasaan Soeharto menjadi pemegang kekuasaan yang omnipresent karena seluruh operasi kekuasaan berorientasi kepadanya. Kantata Takwa bicara dengan sebuah asumsi semacam itu. Mesin operasi kekuasaan menjangkau bahkan hingga ke tempat-tempat yang musykil seperti mimpi manusia. Maka mencatat mimpi pun menjadi sangat penting demi melawan kekuasaan yang semengerikan itu (sebelum bermimpi dilarang, ungkapan yang akrab pada dekade itu). Lihat misalnya bayangan manusia bertopeng gas yang menembaki orang di hutan-hutan atau pun ketika ketika Iwan Fals bermimpi giginya dicabuti oleh tentara agar ia tak bisa bernyanyi lagi. Apatah lagi pengadilan politik terhadap estetika seperti yang dialami oleh Si Burung Merak, Rendra. Pengadilan sebagai lembaga yang seharusnya suci dipenuhi oleh kemunafikan. Tampak sekali film ini menunjukkan gesture jijik terhadap lembaga pengadilan. Tapi masihkah kekuasaan serbamaha yang tunggal macam tuhan itu beroperasi dengan cara seperti yang dialami dan dibaca oleh seniman dekade lalu ini? Inilah pertanyaan yang mengguyahkan gagasan dasar film ini ketika ia lahir sebagai produk tahun 2008. Indonesia pascareformasi justru ditandai dengan fragmentasi luar biasa dalam berbagai usaha meraih dan mempertahankan kekuasaan. Operasinya dalam kehidupan sosial budaya juga demikian beragam dengan agenda yang tak tampak beraturan. Perlawanan ideologi dan politik dalam arena kekuasaan yang pernah menjadi begitu penting, mungkin kini kalah penting dibandingkan dengan perjuangan untuk menampilkan sebuah ideologi pinggiran dalam sebuah film mainstream –yang kemudian menghasilkan pembicaraan publik mengenai substansinya. Agenda politik dalam kesenian mungkin kini lebih cair dan tak semata melawan atau tunduk pada penyelewengan kekuasaan. Perjuangan politik mungkin kini agak tak disadari oleh para seniman –sekalipun aneh rasanya, ada seniman yang tak sadar akan implikasi politis karya mereka sendiri. Artikulasi juga sudah berubah seiring agenda untuk mengelak dari jebakan-jebakan pengulangan bentuk. Arena pertarungan juga sudah tak lagi pada tingkat pembentukan wacana dan narasi besar yang akan menghela seluruh gerbong bernama negara bangsa, tetapi menghadirkan cerita-cerita kecil guna melakukan semacam gerilya budaya yang secara tiba-tiba bisa menyeruak dalam pembicaraan publik yang serius, atau malah jadi kebijakan. Maka ketika Kantata Takwa meletakkan asumsi adanya satu despot yang omnipresent dan beroperasi dari sumber yang tunggal, ia terasa menjadi sebuah artefak sejarah politik. Ia hanya mudah dikenali sebagai sebuah perlawanan terhadap model kekuasaan Soeharto dan sulit diacu pada model persoalan kekuasaan sekarang ini. Soalnya sesederhana bahwa panggung sudah berubah dan pentas yang dimainkan adalah lakon lama. Demikian pula halnya dengan ungkapan jilbab sebagai bentuk perlawanan. Jilbab saat ini sudah bertransformasi, tak lagi mewakili identitas ketakwaan seperti yang ingin disampaikan oleh film ini. Jilbab, bahkan di beberapa tempat, kini menjadi representasi dari represi ketika sekolah-sekolah mewajibkan para pelajar perempuan berjilbab, bahkan termasuk mereka yang beragama non-Islam. Maka ungkapan-ungkapan perlawanan simbolis yang diajukan oleh Kantata Takwa sesungguhnya memang tertinggal di dekade 1990-an, Indonesia sebelum reformasi. Ungkapan Apakah strategi estetika Kantata masih bisa bekerja dalam panggung yang sudah berubah ini? Sebagai sebuah karya eksperimental, Kantata cukup menjanjikan. Seperti dikatakan di atas, film ini justru menghadirkan inkoherensi dalam kosa gambar dan cara ungkap. Dalam film model ini, sebenarnya penonton diminta untuk membuat rambu-rambu personalnya sendiri. Dengan demikian ia akan bisa mengacu kepada pengalaman-pengalaman subjektif penonton. Maka terciptalah sebuah pemaknaan arbitrer pada karya ini. Dengan model pembacaan subjektif seperti ini, diharapkan penonton memberi makna baru sama sekali yang bahkan berlainan dengan niatan para kreator. Namun sayangnya Kantata Takwa tidak diniatkan untuk menjadi karya seperti itu (sekalipun mungkin seharusnya dibaca begitu). Seperti sudah dikatakan di atas, tema film ini koheren sekali. Acuan simbol Kantata Takwa kelewat jelas, bahkan vulgar. Film ini menggunakan estetika puisi pamflet Rendra dan teriakan lagu jalanan Iwan Fals yang terasa ”marah” di awal dekade 1990-an, bukan Iwan Fals yang penuh canda seperti di awal masa karirnya. Kemarahan dan munculnya gesture jijik sesekali dalam film ini serasa tak memberi ruang cukup buat penonton. Namun untunglah sutradara film ini cukup jeli menangkap figur Iwan Fals. Ruang lebih luas diberikan sesekali oleh figur ini. Perhatikan adegan diskusi mengenai rencana pembentukan grup musik Kantata Takwa. Dalam footage diskusi yang singkat itu, Iwan menyatakan keengganannya jika kelompok ini ”berdakwah” dalam pengertian yang sempit. Iwan mungkin marah pada keadaan, tapi ia tak ingin menyatakan bahwa kemarahannya itulah satu-satunya yang sah dengan mendakwahkannya; berbeda sekali dengan sikap Rendra (dan film ini secara keseluruhan) yang bahkan menghakimi balik penghakiman terhadapnya. Demikian pula percakapan Iwan dengan anak-anak di tepi kali kecil. Iwan memperlihatkan sikap seorang seniman rendah hati yang berposisi sederajat dengan anak-anak yang mandi telanjang di kali itu. Ia bernyanyi bersama dan melawan kesewenang-wenangan (masa itu) dengan riang dan tetap bersuara tegas. Maka transformasi teriakan ”Bento!” dari anak-anak itu menjadi teriakan massa di Stadion Utama Senayan bagaikan melihat transformasi kekecewaan yang tulus para mahasiswa di tahun 1998 yang berubah menjadi kekuatan massa untuk menjatuhkan Soeharto. Pada titik inilah inkoherensi cara ungkap film ini jadi cukup memberi keragaman dan ruang. Jika tidak, simbolisme yang vulgar, tema yang so last decade dan kemarahan dan gesture kejijikan akan membuat film ini jadi semacam rejim estetika yang memaksa penonton dengan klaim kebenarannya. Padahal secara umum saja, Kantata Takwa dengan segala ketidakakraban kekisahannya sudah melakukan seleksi awal yang ketat terhadap publik. Klise Sudah pasti KantataTakwa bukan produk populer. Namun secara sinematis, ia akan memberikan pertanyaan terhadap ungkapan estetika para pembuat film Indonesia masa kini. Kapankah sineas Indonesia bisa mengungkapkan apa saja yang diinginkannya, hingga bahkan nyaris mencapai taraf nonsens (Gotot mengakatan hal ini langsung pada saya: film ini sempat terendam banjir tapi gak papa, jadinya gambarnya malah asyik...) tanpa adanya halangan sama sekali? Baiklah, di balik film ini ada uang taipan minyak yang nyaris tak terbatas ketika itu (bayangkan: 30 kamera!) tapi bukankah sumber dana untuk karya yang bebas tak pernah dibatas-batasi harus berasal dari kantong sendiri? Yang justru menarik ditanyakan adalah: akan seperti apa jadinya film ini seandainya Setiawan Djody ikut serta dalam penyelesaiannya. Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura. Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadi gimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.*** Judul Film: Kantata Takwa; Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa; Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot; Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra.
Posted by T. Budhi on May 12, '08 11:06 PM for everyone Alow buat temen-temen semua khususnya nyang berdomisili di wilayah Jakarte Selatan. Nyang laennye mohon maaf ye.... Ada info penting buat remaje-remaje nyang minat jadi Abnon Jaksel. Pemenangnye nanti bakalan jadi duta pariwisate jakarte sama duta autis indonesia. Nah. ni die persyaratannye nyang kudu dilengkapin : Persyaratan - Memiliki KTP DKI Jakarta
- Berijazah minimal SMA
- Berusia 19 - 25 Tahun (Terhitung 22 Juni 2008)
- Memiliki tinggi badan minimal:
- Abang: 170 cm (Mutlak)
- None: 165 cm (Mutlak)
- Belum pernah menikah
- Bebas Narkoba
Rangkaian acara pemilihan berupa - Pengarahan Peserta;
- Tes Tertulis;
- Seleksi Dewan Juri;
- Latihan Finalis;
- Kunjungan Finalis;
- Pembekalan;
- Talent Show;
- Arak-arakan dengan delman hias;
- Malam Keakraban;
- Karantina Finalis;
- Bakti Sosial;
- Malam Final;
- dan Outbound;
Pendaftaran ditutup tanggal 23 Mei 2008 UNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT, HUBUNGI: Abang Dimas (99860377), None Firda (99787618), Abang Fadil (93880713), None Nadia (98009287)
Posted by T. Budhi on May 7, '08 4:50 AM for everyone Serpong, adalah kota kedua tempat beraktifitas sebelumnya. Kurang lebih 2 tahun lamanya aku merasakan perjalanan Jakarta-Serpong. Sebuah pengembaraan yang teramat sangat, walaupun jarak tersebut bisa aku tempuh dalam waktu 1 jam dengan "Brother" motor yang selama ini menemani. 2 Mei menjadi tanggal kembalinya aku di Jakarta. Tepatnya di SP-PUSTAN LIPI Jakarta. Jika di Serpong tugasku hanya melayani orang-orang yang berada di lingkungan Kantor, sedangkan di Jakarta aku harus melayani orang dari berbagai daerah yang menjadi anggota Sertifikasi Personel. Semoga saja keberadaanku di Jakarta ini dapat membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Posted by T. Budhi on May 6, '08 1:16 AM for everyone Buat temen-temen yang suka sama pendakian alias naik gunung, bisa ikut acara yang satu ini. Acaranya terbuka untuk umum Koq. PENDAKIAN MASSAL GUNUNG CEREMAI 17-20 MEI 2008 Biaya 100rb/orang udah termasuk : Transport, Tiket Masuk, Tshirt, Souvenir, Snack 1 kali Dan kalo lagi beruntung pasti dapet Doorprize. Batas Akhir pendaftaran 10 MEI 2008 HUBUNGI : ZAINAL : 0817 687 3325 Shuttle Point : TMP KALIBATA PENYELENGGARA : Oi CRISIS CENTER
Posted by T. Budhi on Apr 24, '08 11:56 PM for everyone Buat yang punya keinginan untuk jadi Model, bisa datang ke alamat di bawah ini. Persyaratan dan hal-hal lainnya silahkan juga menghubungi Managemen yang bersangkutan. - INTERSYS MANAGEMENT
Gedung Bangun Cipta Lt. 2 Jl. Gatot Subroto No. 54 (Samping Bunderan Slipi) Jakarta 10260 Telp. 536 73553 - 93641029 Fax. 536 73553 - PLOR MANAGEMENT
Jl. Swadaya I No. 23 Cempaka Baru Jakarta Pusat 10640 - HI-FEST PRODUCTION
Komp. Rukan Taman Pondok Kelapa B2 Jakarta Timur 13450 Telp/Fax. 865 4588 - 864 4195 - KHARISMA MANAGEMENT
Gedung Wisma Graha Lt. 4 Jl. Timor No. 25 Jakarta Pusat Telp. 391 4923 Fax. 319 06584 - TEAM MANAGEMENT
Komplek. Mitra Matraman Jl. Matraman Raya/148 Blok R2/8 Jakarta Timur 13150 Telp/Fax. 859 18054 Nah kalo sudah kesampaian jadi model, jangan lupa yach sama saloute. Oche.....
Posted by T. Budhi on Apr 10, '08 2:55 AM for everyone KERAJAAN MATARAM HINDU-BUDHA Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan seperti pegunungan serayu, gunung prau, gunung sindoro, gunung sumbing, gunung ungaran, gunung merbabu, gunung merapi, pegunungan kendang, gunung lawu, gunung sewu serta gunung kidul. Daerah ini juga banyak mengalir sungai besar diantaranya sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo. Kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuna sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam). Kerajaan Mataram merupakan daerah yang subur yang memudahkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan merupakan kekuatan utama bagi Negara darat.. Kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung. A. Mataram Hindu – Wangsa Sanjaya (732 M) - Sejarah dan Lokasi
Prabu Harisdarma seorang raja dari Kerajaan Sunda. Ia juga merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah. Ayahnya bernama Bratasenawa yang merupakan raja ketiga Kerajaan Galuh. Saat pemerintahan Bratasenawa pada tahun 716 M, Kerajaan Galuh dikudeta oleh Purbasora. Purbasora dan Bratasena adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah. Bratasenawa beserta keluarga melarikan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta bantuan pada Tarusbawa. Tarusbawa sendiri adalah teman dekat Prabu Harisdarma sendiri adalah suami dari cucu Tarusbawa. Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh menyerang Purbasora yang saat itu menguasai Kerajaan Galuh dengan bantuan dari Tarusbawa dan berhasil melengserkannya. Prabu Harisdarma pun menjadi raja Kerajaan Sunda Galuh. Prabu Harisdarma yang juga ahli waris dari Kalingga, kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dan dikenal dengan nama Sanjaya pada tahun 732 M. Sanjaya atau Prabu Harisdarma, raja kedua Kerajaan Sunda (723-732 M), menjadi raja Kerajaan Mataram (Hindu) (732-760 M). ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.
- Sumber Sejarah
Prasasti Canggal Prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan huruf pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya. Prasasti Metyasih/Balitung Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M. Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno.
- Kehidupan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya
Dari prasasti Metyasih tersebut, didapatkan nama-nama raja dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu : 1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M) Masa Sanjaya berkuasa adalah masa-masa pendirian candi-candi siwa di Gunung Dieng. Kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang wajib diikuti oleh umum, terlebih bagi kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat. Sanjaya memberikan wejangan-wejangan luhur untuk anak cucunya. Apabila sang Raja yang berkuasa memberi perintah, maka dirimu harus berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat mengabdi pada sang raja. Bila melihat gerak lirik raja, tenagkanlah dirimu menerima perintah dan tindakan dan harus menangkap isinya. Bila belum mampu mengadu kemahiran menagkap tindakan, lebih baik duduk terdiam dengan hati ditenangkan dan jangan gentar dihadapan sang raja. Sanjaya selalu menganjurkan perbuatan luhur kepada seluruh punggawa dan prajurit kerajaan. Ada empat macam perbuatan luhur untuk mencapai kehidupan sempurna, yaitu : · Tresna (Cinta Kasih) · Gumbira (Bahagia) · Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain) · Mitra (Kawan, Sahabat, Saudara atau Teman) Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran. 2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M) Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan potensi wilayahnya. Rakai Pangkaran berhasil mewujudkan cita-cita ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan mengambangkan potensi wilayahnya. Nasehatnya yang terkenal tentang kebahagiaan hidup manusia adalah : · Kasuran (Kesaktian) · Kagunan (Kepandaian) · Kabegjan (Kekayaan) · Kabrayan (Banyak Anak Cucu) · Kasinggihan (Keluhuran) · Kasyuwan (Panjang Umur) · Kawidagdan (Keselamatan) Menurut Prasati Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dibangun sebuah candi yang bernama Candi Tara, yang didalamnya tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan sekarang dikenal dengan nama Candi Kalasan. 3. Sri Maharaja Rakai Panaggalan (780-800 M) Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Rakai Panggalan juga memberikan rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti berikut ini “Keselamatan dunia supaya diusahakan agar tinggi derajatnya. Agar tercapai tujuannya tapi jangan lupa akan tata hidup” Visi dan Misi Rakai Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur berarti empat Guru berarti berat. Jadi artinya empat guru yang mempunyai tugas berat. Catur Guru terdiri dari : · Guru Sudarma, orang tua yang melairkan manusia. · Guru Swadaya, Tuhan · Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah · Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk kepentingan bersama Pemberian penghormatan dalam bidang pendidikan, maka kesadaran hukum dan pemerintahan di Mataram masa Rakai Pananggalan dapat diwujudkan. 4. Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M) Rakai Warak, yang berarti raja mulia yang peduli pada cita-cita luhur. Pada masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat. Berbagai macam senjata diciptakan. Rakai Warak sangat mengutamakan ketertiban yang berlandaskan pada etika dan moral. Saat Rakai Warak berkuasa, ada tiga pesan yang diberikan, yaitu : 1. Kewajiban raja adalah jangan sampai terlena dalam menata, meneliti, memeriksa dan melindungi. 2. Pakaian raja adalah menjalankanlah dengan adil dalam memberi hukuman dan ganjaran kepada yang bersalah dan berjasa. 3. Kekuatan raja adalah bisa mengasuh, merawat, mengayomi dan memberi anugrah. 5. Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M) Garung memiliki arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan. Demi memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam. Hal ini dilakukan tak lain hanya mengharap keselamatan dunia raya yang diagungkan dalam ajarannya. Dalam menjalankan pemerintahannya Rakai Garung memiliki prinsip tri kaya parasada yang berarti tiga perilaku manusia yang suci. Tri Kaya Parasada yang dimaksud, yaitu : · Manacika yang berarti berfikir yang baik dan benar. · Wacika yang berarti berkata yang baik dan benar. · Kayika yang berarti berbuat yang baik dan benar. 6. Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M) Dinasti Sanjaya mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perut (850 M) menyebutkan bahwa Rakai Pikatan yang bergelar Ratu mencapai masa kemakmuran dan kemajuan. Pada masa pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan Balaputera Dewa dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang. Pada zaman Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang. Pembuatan Candi tersebut terdapat dalam prasasti Siwagraha yang berangka tahun 856 M. Rakai Pikatan terkenal dengan konsepnya Wasesa Tri Dharma yang berarti tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia. 7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M) Prasasti Siwagraha menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi memiliki gelar Sang Prabu Dyah Lokapala. Tugas utamanya yaitu memakmurkan, mencerdaskan, dan melindungi keselamatan warga negaranya. Pada masa pemerintahannya, Rakai Kayuwangi menuturkan bahwa ada enam alat untuk mencari ilmu, yaitu : 1. Bersungguh-sungguh tidak gentar Semua tutur kata dan budi bahasa dilakukan dengan baik, selaras dan menyatu. 2. Bertenggang rasa Memperhatikan sikap yang kurang baik dengan kebenaran. 3. Ulah pikiran Menimbang-nimbang dengan memperhatikan tujuan kemampuan dan kemauan yang diterapkan harus atas pemikiran yang tepat. 4. Penerapan ajaran Dalam setiap melaksanakan kehendak harus dipertimbangkan, jangan sampai tergesa-gesa. Jangan melupakan ajaran terdahulu, ajaran masa kini perlu untuk diketahui 5. Kemauan Sanggup sehidup semati, mematikan keinginan dan membersihkan diri. Dalam kata lain, tekad dan niat harus dilakukan dantidak segan-segan dalam melakukan pekerjaan 6. Menguasai berbagai bahasa Memahami semua bahasa agar mampu mengatasi perhubungan serta mampu mengakrabi siapa saja. 8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang dipegangnya adalah Tri Parama Arta yang berarti tiga perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tri Parama Arta terdiri dari : 1. Cinta Kasih, menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri. 2. Punian, perwujudan cinta kasih dengan saling tolong menolong dengan memberikan sesuatu yang dimiliki secara ikhlas. 3. Bakti, perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orang tua, guru dan pemerintah. 9. Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M) Pada masa pemerintahannya beliau memiliki seorang teknokrat intelektual yang handal bernama Daksottama. Pemikirannya mempengaruhi gagasan Sang Prabu Dyah Balitung. Masa pemerintahannya duja menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta karya untuk mengembangkan kemajuan masyarakatnya. Dalam mengolah cipta karya, tahun 907 Dyah Balitung membuat Prasasti Kedu atau Metyasih yang berisikan nama-nama raja Kerajaan Mataram Wangsa Sanjaya. Serta menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu. 10. Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M) Daksottama yang berarti sorang pemimpin yang utama dan istimewa. Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai raja Mataram Hindu. 11. Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M) Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama. Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun 809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana 12. Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M) Rakai Sumba Dyah Wawa dinobatkan sebagai raja Mataram pada tahun 921 M. Beliau terkenal sebagai raja yang ahli dalam berdiplomasi, sehingga sangat terkenal dalam kancah politik internasional. Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat. Dalam menjalankan pemerintahannya Dyah Wawa memiliki visiTri Rena Tata yang berarti tiga hutang yang dimiliki manusia. Pertama hutang kepada Tuhan yang menciptakannya, Kedua hutang jasa kepada leluhur yang telah melahirkannya. Dan ketiga, hutang ilmu kepada guru yang telah mengajarkannya. 13. Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M) Empu Sendok, terkenal dengan kecerdasan, ketangkasan , kejujuran dan kecakapannya. Manajemen dan Akuntansi dikuasai, psikologi diperhatikan. - Keruntuhan Wangsa Sanjaya
Pada abad ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan stategi suksesi Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran. Empu Sendok yang memegang pemerintahan setelah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah. B. Mataram Budha – Wangsa Syailendra (752 M) 1. |
|